Riset Formatif untuk Desain Kampanye

Apa dan Untuk Apa Riset Formatif itu?

Menurut Synder (gudykunst, 2002), riset formatif dapat diartikan sebagai riset yang dilakukan dalam masa perencanaan kampanye yang ditujukan untuk mengontruksi program kampanye yang lebih baik. Ditandai dengan 5 hal yang tepat: tepat fokus kampanye, tepat khalayak sasaran, tepat pesan, tepat saluran dan tepat agen perubahan.

Metode-metode riset formatif

  1. Metode survei: melibatkan pengumpulan data dalam jumlah yang besar. Data dikumpulkan melalui kuisioner atau wawancara yang dilakukan terhadap sekelompok besar orang yang disebut dengan populasi. Dari populasi ini kemudian dipilih sebagian besar orang tersebut melalui prosedur pemilihan sampel yang ilmiah. Wawancara dalam metode survei dilakukan  dengan mengacu kepada kuisioner. Metode sampling yang dilakukan biasanya menggunakan probability sampling sehingga dimungkinkan untuk menghitung berapa orang yang diperlukan dalam riset tersebut. Tahap-tahap dalam metode survei: Menentukan tujuan dan menentukan populasi dan sampel. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas sampel yaitu (a) sampling bias (tidak memberikan kesempatan yang sama kepada semua unsur populasi untuk dipilih), (b) metode penarikan sampel atau sampling method yaitu prosedur yang digunakan untuk memilih sampel dari suatu populasi., (c) ukuran sampel yaitu banyaknya jumlah unsur dari suatu populasi yang diambil menjadi sampel. (d) Sampling error yaitu adanya penyimpangan dari karkateristik populasi, atau disebut juga perbedaan antara hasil yang diperoleh dari sampel dengan hasil yang didapat dari sensus. Ada empat rancangan sampel dalam kategori probabilitas, yaitu sampling random sederhana: untuk menarik sampel, kita dapat menuliskan semua unsur populasi dalam secarik kertas, kemudian mengundinya sampai kita peroleh jumlah yang dikehendaki, sampling sistematis yang menggunakan kerangka sampling. Di sinilah unsur yang pertamalah dipilih secara random. Unsur-unsur lainnya ditarik dengan mengambil jarak tertentu. Sampling berstrata, yang melibatkan pembagian populasi ke dalam kelas, kategori atau kelompok yang disebut strata. Karakteristik strata boleh kota, daerah , suku bangsa, jenis kelamin, status, usia, dsb. Ada 2 jenis sampel strata, yaitu: proposional dan disproposional. Dalam strata proposional, dari setiap strata diambil sampel yang sebanding dengan besar setiap strata. angka yang menunjukkan berapa persen dari setiap strata diambil disebut pecahan sampling. Pada sampel strata, pecahan sampling untuk setiap strata sama, misalnya 1000 perempuan dan 900 laki-laki dari setiap strata kita ambil 10 %, maka kita memeroleh sampel yang terdiri dari 100 orang perempuan dan 90 orang laki-laki. Pada sampel strata disproporsional sampel yang diambil dari setiap strata berjumlah sama dengan diberikan bobot bagi strata tersebut. Sampling klaster. Cara ini dilakukan bila kita tidak mempunyai kerangka sampling, misalnya kita ingin meneliti siswa SLTA se Jakarta. Klaster dapat berupa sekolah, kelas, kecamatan dan sebagainya.
  2. Metode Diskusi kelompok Terarah:`Suatu metode yang menggunakan wawancara kelompok kecil dengan orang-orang yang diperkirakan menggambarkan karakteristik dari khalayak yang ditargetkan. Metode ini mudah, relatif cepat dan murah sehingga bisa menjadi alternatif untuk mendapatkan data yang lebih lengkap. Satu kelompok terdiri dari 10 sampai 14 orang. Jika target khalayak kampanye itu berbeda, maka harus diwakili oleh masing-masing target khalayak. Proses seleksi  dalam metode ini biasanya melalui prosedur penyaringan dengan langkah-langkah sebagai berikut:(a) Individu tidak boleh hanya satu organisasi. Anggota dari kelompok diskusi ini haruslah mempunyai karakteristik yang homogen, sehingga memungkinkan untuk mengikutsertakan berbagai kelompok. (b)  orang yang sudah pernah berpartisipasi dalam metode ini tidak boleh ikut serta. (c) Partisipan yang ikut tidak boleh mengikuti diskusi kelompok pada proyek yang sama di tempat lain. (d) Merekrut orang lebih banyak karena ada kemungkinan  beberapa orang tidak akan hadir. (e) Orang yang akan mengikuti diskusi ini harus menginformasikan jika akan datang terlambat. Mereka tidak akan  bisa berpartisipasi dengan baik tanpa informasi yang cukup, sebab diskusi ini dimulai dengan penjelasan di awal. Jumlah kelompok dalam diskusi: Setiap segemen yang menjadi target khalayak harus dapat diwakili oleh kelompok yang terpisah. Diskusi dengan dua atu tiga kelompok untuk setiap segmen akan lebih baik sehingga bisa mendapatkan perbandingan dan informasi yang lebih lengkap. Mempersiapkan wawancara: dalam diskusi ini dibutukan keahlian orientasi psikologis seperti ketrampilan berempati. Agar diskusi tidak menyimpang, moderator atau pewawancara sebaiknya tidak bertanya berdasarkan kuesioner tersetruktur, tetapi lebih menekankan pada ingatan atau catatan kecil. Selain itu moderator juga harus mendalami masalah yang didiskusikan sehingga diskusi berjalan lancar dan tindakan yang dilakukan lebih relevan. Catatan yang dibuatpun harus ringkas. Moderator harus mampu menangkap apa yang dikatakan partisipan, tetap  memegang kepercayaan, dan sensitif terhadap tanda-tanda non verbal yang ditunjukkan oleh partisipan. Merekam diskusi dan analisis Kekurangan dan kelebihan metode: Metode ini mempunyai kekurangan, yaitu: (1) dari metode ini hanya dapat diperoleh hasil data yang lemah. (2) tidak dapat dipastikan bahwa orang yang terlibat dalam diskusi tersebut adalah orang yang representatif sehingga hasilnya tidak bisa digeneralisasi sebagai hasil  dari segmen khalayak yang diharapkan, dan (3) kelompok kecil tidak dapat digunakan untuk mencoba menafsirkan hasilnya dalam bentuk statistik, sehingga tidak memungkinkan Anda membuat proyeksi dengan derajat ketepatan yang tinggi. Namun, metode ini juga mempunyai kelebihan dalam menganalisis permasalahan kampanye. Metode ini menarik, cenderung lebih murah dan mudah dan dapat menjadi alternatif dalam melakukan riset survei.
  3. Metode wawancara mendalam: Metode ini berhadapan dengan sekelompok kecil orang tetapi melibatkan wawancara yang lebih lama dan mendalam tentang pandangan orang tersebut sebagai seorang individu. Wawancara adalah suatu komunikasi verbal atau percakapan yang memerlukan kemampuan dalam merumuskan  buah pikiran serta perasaan responden dengan tepat untuk memeroleh informasi. Pada saat wawancara peneliti menerima informasi yang diberikan responden tanpa membantah, mengecam, menyetujui atau tidak menyetujujui. Wawancara merupakan hal yang tidak mudah karena memerlukan ketrampilan deskriptif yaitu untuk melukiskan suatu keadaan dan juga berfungsi eksploratif. Dalam metode wawancara diperlukan kemampuan mengajukan pertanyaan yang dirumuskan secara tajam, halus dan tepat serta kemampuan untuk menangkap buah pikiran orang lain dengan cepat. Apabila pertanyaan salah ditafsirkan, pewawancara harus mampu untuk merumuskannya segera dengan kata-kata lain atau mengajukan pertanyaan lain agar dapat dipahami oleh responden.

            a. Faktor-faktor yang mempengaruhi wawancara:

Wawancara memerlukan ketrampilan komunikasi verbal, dan keterampilan ini   tidak    selalu dimiliki oleh semua orang. Hal ini juga bergantung pada taraf pendidikan, sifat masalah dan rumusan pertanyaan yang diajukan. Faktor lain yang  juga sangat penting adalah  pribadi pewawancara. Keluwesan pewawancara dalam bergaul atau berhubungan dengan orang lain akan mempengaruhi sikap responden. Pewawancara harus dapat menangkap maksud orang lain dengan cepat dan sigap dalam mengajukan pertanyaan lanjutan untuk memperoleh keterangan yang lebih mendalam. Ia harus sensitif terhadap nada, corak jawaban dan hal lainnya  yang tampaknya kecil tetap mempunyai makna penting dalam kaitannya dengan jawaban responden. Pewawancara harus mampu menyoroti masalah dari berbagai segi dan dengan pertanyaan yang terarah berusaha untuk memperoleh keterangan tentang aspek-aspek yang diinginkan. Selain  itu, penampilan fisik seseorang juga dapat mempengaruhi wawancara, seperti cara berpakaian dan berbicara, sikap terhadap responden, usia, kedudukan sosial, jenis kelamin dan lain-lain.  Faktor lain juga dapat memengaruhi wawancara adalah responden. Ada orang yang bersedia  dan suka diwawancarai karena ingin menyampaikan pengetahuan dan pendiriannya tentang topik yang disenangi atau karena insentif yang diberikan. Adapula yang kurang rela memberikan keterangan karena masalah itu dianggapnya terlalu pribadi atau sensitif misalnya, hubungan antar suku bangsa. Pewawancara harus mencari jalan agar responden tetap bersedia diwawancarai tetapi jangan memaksa mereka karena bisa jadi akhirnya informasi yang didapatkan tidak valid.

Cara-cara wawancara:

ada dua cara yang dapat dilakukan dalam wawancara, Cara pertama adalah wawancara terstruktur. Dalam wawancara terstruktur semua pertanyaan telah dirumuskan sebelumnya dengan cermat, biasanya secara tertulis. Pewawancara menggunakan daftar pertanyaan tersebut ketika wawancara atau mungkin menghapalnya agar percakapan menjadi lancar dan wajar.Dengan menggunakan wawancara ini tujuan wawancara lebih jelas dan terpusat pada hal-hal yang telah ditentukan lebih dahulu sehingga tidak ada kemungkinan percakapan menyimpang dari tujuan. Jawaban-jawaban mudah dicatat dan diberi kode sehingga data lebih mudah diolah.

Cara kedua: adalah wawancara tidak terstruktur. Dalam wawancara ini tidak dipersiapkan daftar pertanyaan sebelumnya. Pewawancara hanya menghadapi satu masalah secara umum, dan ia boleh menanyakan apa saja yang dianggapnya perlu dalam situasi wawancara itu. Namun, sebaiknya pewawancara mencatat pokok-pokok penting yang akan dibicarakan sesuai dengan tujuan wawancara. Pada wawancara ini responden secara bebas dapat mengemukakan pendapatnya secara spontan. Dengan demikian pewawancara memperoleh gambaran yang lebih luas tentang masalah yang diungkap karena responden bebas meninjau berbagai aspek menurut pendirian dan pikiran masing-masing. Namun hasil wawancara dengan cara ini sulit untuk diolah. Peneliti perlu membatasi kebebasan dengan mengadakan struktur dalam pertanyaan sehingga data yang diperoleh dapat disusun menurut sistematika tertentu.

Proses wawancara

Dalam proses wawancara harus diusahakan agar komunikasi antara responden dan pewawancara berjalan lancar dalam suasana yang kondusif. Peneliti harus memperhatikan hal-hal yang memudahkan komunikasi seperti soal pakaian, bahasa dan hal-hal yang disukai atau tidak disukai oleh responden kita. Sebaiknya kita memakai pakaian rapi dan sopan. Adakalanya bahasa daerah harus digunakan agar mudah mendekati reponden.

Dalam melaksanakan wawancara pun jangan lupa kita harus menjaga hubungan baik dengan responden sehingga suasana yang terjalin lebih akrab, tidak ada suasana takut, curiga dan malu. Dapat dimulai dengan memberi ucapan selamat, memperkenalkan diri, menunjukkan kartu pengenal, menjelaskan tujuan kita dan pentingnya keterangan responden bagi penelitian itu.

Selain, pewawancara harus pandai menunjukkan penghargaannya dengan senyuman, anggukan, sikap simpatik, dan pendirian responden, menilai perbuatan responden. jika responden merasa tersinggung, hasratnya membantu pewawancara akan berkurang atau bahkan hilang.

Hal penting lainnya adalag mencatat hasil wawancara secara cepat dan jelas. Ada kalanya menuliskan hal-hal penting saja, atau persis apa yang diucapkan oleh responden. Pada Zaman sekarang dapat menggunakan alat perekam. Namun, untuk mencegah kemungkinan dari alat perekam yang rusak, catatan harus tetap digunakan, sehingga tidak kehilangan hal-hal penting dari responden.

Ketika mengakhiri wawancara, dapat dilakukan berbagai hal.  Untuk wawancara singkat dapat dilakukan dengan  ucapan terima kasih disertai senyuman. wawancara yang intensif dan mendalam menunjukkan bahwa ia harus pergi dengan cara membereskan perlengkapannya dan mengucapkan terima kasih atas segala bantuan, berjabat tangan untuk pamit, dan memberikan suatu pujian kepada responden untuk meninggalkan kesan yang menyenangkan pada responden.

Probing dalam wawancara:

Ada suatu ketrampilan  yang mutlak dilakukan dalam wawancara, yaitu probing yang berfungsi  untuk mengorek keterangan. Probing dilakukan untuk meminta keterangan lebih lanjut apabila jawaban kurang jelas atau kurang lengkap. Probing juga dapat dilakukan apabila responden tampaknya tidak sanggup menjawab, karena tidak tahu atau kurang mengerti. Apabila responden memang tidak tahu, misalnya peraturan undang-undang, tidak ada gunanya mengorek. Tapi, jika pertanyaan kurang dipahami, kita dapat mengulanginya atau merumuskannya dengan kata-kata lain. Bila responden tidak dapat menjawabnya dengan segera karena lupa, kita dapat membantunya untuk mengingatkan kembali dengan menanyakan hal-hal yang sederhana.

Adakalanya reponden tidak dapat menjawab karena ada rasa takut atau segan. Untuk itu kita dapat mengatakan bahwa yang perlu kita ketahui adalah perasaannya, tanggapan atau pikirannya, bahwa kita tidak menilainya sebagai benar atau salah, karena tidak ada jawaban yang salah atau benar dalam wawancara.

 Kelebihan dalam metode wawancara:

  1. Dengan wawancara kita dapat memeroleh keterangan yang sedalam-dalamnya tentang suatu masalah, khususnya yang berkenaan dengan pribadi seseorang.
  2. Dengan wawancara kita dapat dengan cepat memeroleh informasi yang diinginkan.
  3. wawancara dapat memastikan bahwa respondenlah yang memberi jawaban langsung. Dalam angket kepastian tersebut tidak ada.
  4. Dalam wawancara dapat diusahakan agar pertanyaan dipahami benar oleh responden.
  5. wawancara memungkinkan fleksibilitas dalam cara bertanya. Bila jawaban tidak memuaskan, tidak tepat atau tidak lengkap, pewawancara dapat mengajukan  dan merumuskan pertanyaan  dengan kata-kata lain. Bila pertanyaan menimbulkan reaksi negatif, ia dapat mengalihkannya pada topik berikutnya.
  6. Pewawancara yang sensitif dapat menilai validitas jawaban berdasarkan gerak-gerik, nada dan air muka responden.
  7. Informasi yang diperoleh melalui wawancara  akan lebih dipercayai kebenarannya karena salah tafsiran dapat diperbaiki sewaktu wawancara dilakukan . Jika perlu pewawancara dapat mendatangi responden kembali.
  8. Dalam wawancara responden lebih bersedia mengungkapkan keterangan-keterangan yang tidak mungkin diberikannya dalam angket tertulis.

Kelemahan wawancara yang perlu diperhatikan:

  1. Apakah jawaban verbal dapat dipercaya? pendapat yang diucapkan responden belum tentu pendapat yang sebenarnya karena itu kesangsian tentang validitas  jawaban yang diperoleh melalui wawancara, khususnya bila mengandung unsur-unsur nilai.
  2. Pewawancara sendiri tidak konstan keadaannya dalam menghadapi berbagai orang secara berturut-turut. keletihan, kurangnya konsentrasi, atau faktor-faktor lain dapat menimbulkan perubahan pada diri pewawancara sehingga mempengaruhi validitas data yang dikumpulkan.
  3. Bila pelaksanaan wawancara ditugaskan kepada beberapa orang, maka akan terdapat perbedaan pribadi dan ketrampilan para petugas tersebut, yang dapat mempengaruhi data yang dikumpulkan.
  4. Menggunakan sejumlah pewawancara memerlukan untuk memilih, melatih dan mengawasi staf pekerja lapangan.

Evaluasi Kampanye

Campaign without evaluation is a waste of time and money (Ostegaard)

  1.  Apakah Evaluasi itu?

Evaluasi kampanye diartikan sebagai upaya sistematis untuk menilai berbagai aspek sistematis untuk menilai berbagai aspek yang berkaiyan dengan proses pelaksanaan dan pencapaian tujuan kampanye.

Terkait  dengan pelaksanaan, terdapat dua hal yang menjadi fokus perhatian, yakni konsep dan kinerja pelaksana.

Proses implementasi rancangan kampanye dapat dilakukan dengan menganalisis catatan harian kampanye yang berisi berbagai data dan fakta sebagai hasil proses pemantauan, pengamatan di lapangan dan wawancara yang dilakukan untuk mendapat umpan balik.

2. Mengapa Melakukan Evaluasi kampanye

Evaluasi menurut Parrot (1993), sebagian besar penyelenggara kampanye ternyata tidak melakukannya. Alasanya bermacam-macam, mulai dari penghematan biaya hingga ketakutan akan hasil evaluasi yang negatif yang dianggap dapat merusak reputasi pelaksanaan kampanye.

Evaluasi yang dilakukan secara cermat akan memberikan banyak informasi berkenaan dengan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan kampanye yang pada gilirannya dapat digunakan sebagai rekomendasi bagi penyelenggaraan kampanye berikutnya.

Di samping itu Gregory (2000) pakar kampanye Inggris mengemukakan lima alasan penting lainnya mengapa evaluasi perlu dilaksanakan.

  1. Evaluasi dapat memfokuskan usaha yang dilakukan. Jika  tahu bahwa Anda akan dinilai berdasarkan kriteria tertentu, maka  akan lebih memfokuskan usaha pada hal-hal yang menjadi prioritas pencapaian tujuan.
  2. Evaluasi menunjukkan keefektifan pelaksanaan kampanye dalam merancang dan mengimplementasikan  programnya. Bila dalam suatu program kampanye Anda berhasil menunjukkan keefektifan kerja, maka itu akan meningkatkan kredibilitas Anda sebagai pelaksana kampanye.
  3. Memastikan  efisiensi biaya. Kampanye selalu melibatkan biaya besar, dan penyelenggara kampanye tidak ingin dana dan berbagai sumber daya lain terbuang sia-sia. Mereka selalu menghendaki adanya pencapaian tujuan yang berarti sebagai ganti biaya yang dikeluarkan. Jadi setiap rupiah yang dikeluarkan sudah jelas peruntukkannya.
  4. Evaluasi membantu pelaksana untuk menetapkan tujuan secara realistis, jelas dan terarah. Di sini berbagai relevan akan dengan cepat diidentifikasi dan langsung disingkirkan.
  5. Evaluasi membantu akuntabilitas (pertanggungjawaban) pelaksana kampanye. Dalam hal ini pelaksana kampanye dapat mempertanggungjawabkan segala kebijakan, tindakan bahkan rancangan kampanye yang telah dibuat sebelumnya.

3. Tingkatan Evaluasi Kampanye

  • Tingkatan Kampanye: untuk mengetahui apakah khalayak sasaran tertera kegiatan kampanye yang dilakukan atau tidak. Dengan demikian pernyataan pokok untuk evaluasi level ini adalah apakah kampanye yang dilakukan dapat menjangkau khalayak sasaran yang ditetapkan?Dan apakah khalayak memberi perhatian pada kampanye tersebut. Metode yang paling populer di kalangan pelaksana kampanye adalah metode kuantitatif  survey. Metode ini dapat memberikan gambaran berapa persen kira-kira khalayak yang terterpa pesan kampanye tetapi juga dapat  menjelaskan  apa khalayak memberikan perhatian  atau tidak pada pesan tersebut. Masalah pokok  yang dihadapi dalam mengukur terpaan media adalah keragaman media yang digunakan. Kesulitannya adalah ketika ditanyakan kepada khalayak, darimana mereka memperoleh informasi tentang kampanye, sering kali tidak menjawab secara akurat. Untuk mengatasi hal itu para evaluator kamnpanye menyarankan agar secara relatif lengkap menyajikan contoh-contoh isi pesan yang disampaikan melalui berbagai media yang ada. Dengan cara itu ingatan khalayak akan terbantu sehingga mereka dapat secara tepat menentukan sumber pesan.
  • Tingkatan sikap:dengan menggunakan survei atau uji sederhana (simple test). metode survei digunakan untuk sampel dalam jumlah besar, sementara test sederahan umumnya untuk kelompok sasaran yang terbatas, yang juga sangat populer untuk mengukur pengetahuan atau ketrampilan yang diperoleh seseorang sebagai akibat diselenggarakannya kampanye. Dalam perpesktif Ostergaard, terdapat empat aspek yang terkait dengan evaluasi pada tingkatan sikap, yakni aspek koginitif (pengetahuan, kesadaran, kepercayaan dsb), Afektif (kesukaan, simpati, penghargaan, dukungan, dsb),  konatif (Komitment untuk bertindak),  dan aspek ketrampilan atau skill. Elemen terakhir ditambahkan semata-mata dengan mempertimbangkan bahwa ketrampilan adalah sesuatu yang harus dikuasai bila kita menghendaki adanya perubahan perilaku. Dengan demikian, ketrampilan berada dalam derajat yang sama dengan sikap yang diartikan sebagai kecenderungan untuk bertindak terhadap objek tertentu. Sama hal nya dengan evaluasi tingkat kampanye, pelaksana kampanye juga mengontruksi pertanyaan yang sama sebelum dan sesudah kampanye. Untuk mengetahui perbedaannya kita juga tinggal mengurangi skor sesudah kampanye dengan sebelum kampanye. Sementara untuk sampel yang dievaluasi bisa orang-orang yang sama atau orang lain yang memiliki karakteristik yang sama (dengan segmentasi khalayak sasaran).
  • Tingkatan Perilaku: Para ahli kampanye memandang tingkatan perilaku sebagai level yang paling penting dalam kebanyakan evaluasi kampanye. Namun, Jenis Evaluasi ini sering diabaikan atau dilakukan sekadarnya dengan mengamati realitas permukaan. Pada Realiatas permukaan, orang lain juga mengamati secara langsung, orang seringkali tampak beruba perilakunya, padahal sebenarnya tidaklah demikian.
  • Tingkatan masalah: Pada tingkat ini evaluasi dilakukan dengan mudah atau sebaliknya sangat sulit dan memakan waktu lam. Propblem atau masalah di sini diartikan sebagai kesenjangan antara kenyataan dengan harapan atau dengan yang seharusnya terjadi. Data-data statistik yang disediakan berbagain instansi pemerintah atau lembag independen dapat membantu untuk melihat perkembangan masalah yang ada. Hal yang sering menjadi pertanyaan dalam evaluasi tingkatan masalah adalah, apakah yang diukur efek jangka pendek atau jangka panjang.? Kapan harus dilakukan evaluasi? Pertanyaan pertama sebenarnya tidak terlalu penting untuk dijawab, karena kampanye selalu memiliki efek jangka pendek dan panjang. Sedangkan untuk pertanyaan kedua, jawabannya tergantung pada jenis dan objek kampanye serta kecermatan kriteria pengukuran hasil.

4. Menyimpulkan Evaluasi Kampanye

Evaluator kampanye menghindari pernyataan yang bersifat memastikan (deterministik) dengan membuat kesimpulan yang bersifat probabilistik. Jadi, cukup tegaskan bahwa media yang digunakan kemungkinan besar sudah sesuai, penetapan khalayak sasaran hampir dapat dipastikan sudah tepat atau secara keseluruhan kampanye dilakukan cenderung menghasilkan efek yang positif.

Sebagian khalayak  sasaran mengalami perubahan baik pada aspek pengetahuan, sikap atau ketrampilan ke arah yang diharapkan pelaksana kampanye. Sebagian kecil khalayak tersebut juga berubah perilakuknya sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Bahkan masalah atau kesenjangan antara harapan dengan kenyataan juga berkurang, bagaimana kita menyimpulkan kampanye itu berhasil?

Ostergaard menyatakan belum dapat dipastikan bahwa perubahan yang terjadi adalah akibat kampanye yang dilakukan. Bila jadi ada faktor lain yang menyebabkan timbulnya perubahan dan faktor tersebut harus dibuktikan kebenaran dan keberadaannya.

Dari fakta tersebut dapat disimpulkan  bahwa Strategi yang diterapkan sudah benar dan kampanye yang dilakukan kemungkinan besar efektif.

Situasi umum yang seringkali terjadi pada tahapan evaluasi

Situasi Pertama adalah keadaan dimana evaluasi terhadap efek yang diharapkan terbukti tercapai kecuali pada tingkatan “masalah”. Khalayak memberi perhatian pada pesan kampanye, sebagian dari mereka berubah sikap atau ketrampilannya dan sebagian lagi mengalami perubahan perilaku. Tetapi masalah tampaknya tidak berkurang. Dalam situasi ini, yang dapat disimpulkan adalah bahwa teori yang digunakan salah. Ternyata perubahan perilaku tidak mengurangi masalah yang dihadapi.

Situasi Kedua terjadi ketika kampanye tampak efektif untuk semua level namun ternyata perilaku khalayak tidak berubah. Pesan kampanye

Situasi ketiga terjadi ketika kampanye yang dilakukan memerlihatkan  keefektifannya tapi faktor eksternal membuat masalah semakin senjang atau meningkat. Misalnya pada kasus kampanye “keselamatan berlalu lintas”, semua level evaluasi menunjukkan kampanye cenderung efektif tapi masalah atau tingkat kecelakaan lalu linta smalah meningkat. Dalam situasi demikian , bisa jadi faktor musim hujan ketika kampanye berlangsung, atau kondisi jalan yang buruk, atau tidak adanya rambu-rambu lalu lintas menjadi penyebab masalah meningkat. untuk memastikannya maka survei perlu dilakukan kepada para pengguna jalan yang mengalami musibah tersebut. Ini berarti survei tehap kedua perlu dilakukan.

Melakukan evaluasi kampanye memang tidak mudah apalagi murah. Setidaknya 10-15 % anggara kampanye harus disisihkan untuk melakukan program profesional apapun hasilnya.

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan, bila kita menemukan kampanye yang dilakukan cenderung efektif , maka kita semakin yakin dengan ketepatan strategi kampanye yang dipilih. Sebaliknya bila hasil evaluasi menunjukkan kecenderungan tidak efektif maka kita mendapat pelajarab berharga dari temuan-temuan tersebut.

Tanpa evaluasi kita akan terus menerus mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama karena tidak pernah tahu dengan kesalahan-kesalahan sebelumnya.

 

 

 

 

 

›

Motivasi Diri

Motivasi merupakan hal yang sangat penting untuk menjalankan hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan diri. Dengan motivasi yang kuat seseorang dapat melakukan hal-hal yang besar, yang mustahl dilakukan dalam keadaan biasa. Namun, agar motivasi tetap efektif, perlu didukung oleh disiplin yang tinggi, dengan tetap konsisten menjalankan hal-hal yang sudah direncanakan dalam mencapai yang diinginkan, dan tetap menghormati aturan-aturan atau norma-norma yang ada.

Pengertian motivasi

Motivasi berkaitan dengan kemampuan yang terkandung di dalam diri pribadi seseorang. Jadi motivasi merupakan kekuatan atau daya dorong yang menggerakkan sekaligus mengarahkan kehendak dan perilaku seseorang dan segala kekuatannya untuk mencapai tujuan yang diinginkannya yang muncul dari keinginan memenuhi kebutuhannya.

B. Motivasi dan Harapan

Motivasi timbul karena adanya kebutuhan yang ingin dipenuhi. Kebutuhan ini menimbulkan keinginan dalam diri seseorang untuk memenuhinya. Di sini kebutuhan dapat dilihat sebagai kekurangan (defisiensi) yang dialami individu pada suatu waktu tertentu. Kekurangan tersebut dapat bersifat fisik (msisalnya: kebutuhan akan makanan), psikologis (misalnya: kebutuhan beraktualisasi diri) dan kebutuhan sosiologis (misal: kebutuhan untuk interaksi sosial) Kekurangan-kekurangan merupakan pemicu timbulnya keinginan dan perilaku untuk meresponsnya.

BILA KEBUTUHAN ADA, SESEORANG AKAN LEBIH MUDAH TERMOTIVASI TAPI APAKAH SELALU JELAS BAGI SESEORANG YANG MENJADI KEINGINAN, KEBUTUHAN DAN HARAPAN-HARAPANNYA

A. Hierarki kebutuhan Maslow

  1. Kebutuhan fisiologis, meliputi: kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal dan sembuh dari rasa sakit.
  2. Kebutuhan keamanan dan keselamatan, meliputi kebutuhan akan kemerdekaan dari ancaman, keamanan dari kejadian atau lingkungan yang mengancam.
  3. Kebutuhan rasa memiliki, sosial dan kasih sayang, meliputi kebutuhan akan persahabatan, berkelompok, interaksi dan kasih sayang.
  4. Kebutuhan akan penghargaan, meliputi: kebutuhan akan harga diri dan penghargaan dari pihak lain.
  5. Kebutuhan aktualisasi diri, meliputi kebutuhan untuk memenuhi diri melalui memaksimumkan penggunaan kemampuan, keahlian dan potensi.

Harapan sebagai dasar utama motivasi

Sebenarnya motivasi bukan saja karena adanya kebutuhan, melainkan lebih karena adanya harapan akan dapat dipenuhi kebutuhan itu. Dengan ini mau dikatakan bahwa motivasi itu  itu berkaitan dengan:

  1. Adanya kebutuhan yang ingin dipuaskan
  2. pemenuhan kebutuhan itu tidak dengan cara mudah (sulit memenuhinya)
  3. ada harapan bahwa pemuasana kebutuhan itu dapat dipenuhi apabila berjuangmewujudkannya.

Kebutuhan yang mudah pemenuhannya tidak memunculkan harapan dan dengan demikian tidka menimbulkan motivasi.

Demikian juga sesuatu yang dirasa sebagai kebutuhan, namun tidak mungkin untuk memenuhinya, tidak akan memunculkan harapan ke sana, dan dengan demikian juga tidak memunculkan motivasi.

C. Bentuk-bentuk Motivasi

Motivasi dan manipulasi dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. untuk menerangkan hal ini, kita menyoroti dari sudut pandang manajemen, yang memang lebih banyak berbicara mengenai hal ini.

Manipulasi adalah suatu cara untuk menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu, namun hal itu dia lakukan karena orang lain menginginkan dia untuk melakukannya. Sedangkan motivasi adalah menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu sebab dia sendiri ingin melakukan hal itu.

Manipulasi bersumber dari luar diri, sedangkan motivasi muncul dari dalam diri sendiri. Orang disebut termotivasi karena dia sendiri ingin dan tergerak untuk melakukannya.

Motivasi berdasarkan sikap 

merupakan motivasi yang lahir dari diri sendiri, menyangkut bagaimana orang itu berpikir dan merasa. Motivasi ini merupakan keyakinan dan kepercayaan diri seseorang, sikap mereka terhadap kehidupan, positi atau negatif.

Motivasi berdasarkan sikap adalah bagaimana mereka merasakan masa depan dan bagaimana mereka bereaksi terhadap masa lampau. Motivasi berdasarkan sikap mengindikasikan bahwa secara konsisten seseorang berkeyakinan bahwa dia mempunyai sikap yang benar. Motivasi seperti ini merupakan motivasi dalam arti sebenarnya sehingga merupakan pilihan atau sikap dasar hidup seseorang.

Motivasi berdasarkan imbalan

Apabila seseorang melakukan suatu aktivitas karena adanya suatu imbalan yang  akan diterima. Imbalan berperan penting dalam memotivasi seseorang. Banyak orang mau dan dengan sungguh-sungguh melakukan sesuatu termotivasi oleh imbalan yang bakal mereka terima sesudahnya. Semakin imbalan itu penting bagi mereka, motivasi mereka untuk mengejarnya semakin besar pula.

Imbalan yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk uang, melainkan dalam banyak bentuk lain, seperti pengakuan, penghargaan, pemebebasan, penguasaan, dan sebagainya.

Motivasi dan lingkungan

Lingkungan yang dimaksud termasuk fasilitas yang diperlukan bagi mungkinnya suatu aktivitas dilaksanakan. Berlaku bagi motivasi yang berdasarkan imbalan dan motivasi berdasarkan sikap.

Ada banyak tempat seseorang sangat termotivasi untuk melakukan aktivitas terdorong oleh sikap dasarnya yang memang mau melakukannya, namun lama kelamaan menjadi tidak efektif karena berbagai kendala lingkungan menghadangnya.

Gambaran orang yang termotivasi

Orang yang termotivasi dapat kelihatan dari penampilannya: dari cara berpakaian, cara berjalan, bahasa tubuh (wajah, mata, satu guratan ekspresi dan sebagainya). Bahasa tubuh kadang lebih otentik menyampaikan informasi yang benar tentang keadaan seseorang.

Salah satu  cara yang memperlihat termotivasi tidaknya seseorang adalah dengan komunikasi, melalui lisan, isyarat atau bentuk lain. Pada intinya, orang yang termotivasi tampak memiliki energi yang amat berlimpah sehingga banyak hal dapat dilakukan dan selesaikan, walaupun dia punya banyak kesibukan.

D. Cara Memotivasi Diri

  1. Memotivasi diri melalui rasa percaya diri
  • Hindari mencari-cari alasan  tapi mencari kata-kata yang positif seperti: SAYA BISA DAN SAYA MAMPU.
  • Gunakan daya imajinasi: Otak kita, dengan kapasitas yang tak terbatas, dapat membantu kita untuk mencapai ambisi hidup, jika kita memberinya kesempatan. Biarkan otak Anda menggambarkan diri Anda sebagai pribadi yang Anda inginkan. Gambarkan wujud yang Anda inginkan. Semakin Anda memikirkan itu semua semakin besar kepastian akan suatu hasil yang positip. Sebaliknya, jika Anda terus menerus membiarkan pikiran Anda dipenuhi dengan bermacam-macam pemikiran mengenai penyakit dan kesehatan yang buruk, Anda hampir pasti akan mengalami penyakit yang Anda pikirkan itu. Maka, gunakanlah daya imajinasi otak Anda. Yakinkan diri anda bahwa yang sedang anda pikirkan dan lihat dengan jelas adalah hal yang positif.
  • Jangan takut gagal: menghadapi  suatu peluang atau tantangan baru, kita dapat saja mengkaji apa yang mungkin terburuk yang dapat terjadi, alias gagal. Bersama dengan itu, kita perlu juga memikirkan cara-cara menangani apabila kemungkinan terburuk itu terjadi. Dengan demikian, kita telah siapmenghadapi dengan satu atau lebih alternatif pemecahan. Setelah melakukan pengkajian semcam itu, kita  memusatkan perhatian hanya pada rencana menuju sukses. Takut gagal akan mengurangi kepercayaan diri, dan dengan sendirinya juga akan mengurangi motivasi diri sendiri.
  • Perhatikan penampilan

2.    Memotivasi diri dengan menentukan sasaran:  Sasaran atau target yang sudah kita tetapkan, bisa berada di depan dan juga di belakang kita. Suatu saat, kita mengejar target yang terbentang di depan kita. Tapi kita lalai mengejarnya, target itu balik mengejar kita dan mengingatkan kita agar kita bangkit mengejarnya. Jadi, target yang baik dapat berperan penting untuk menggerakkan kita.

3.   Memotivasi diri dengan menyusun catatan mengenai sukses yang pernah diraih

Setiap orang sekurang-kurangnya dalam satu hal yang kecil pernah meraih sukses dalam hidupnya. kenyataan ini memperlihat bahwa dia memiliki peluang untuk meraih hal yang sama di masa depan.

Dalam keragu-raguan akan kemampuan diri sendiri, sukses masa lalu dapat menjadi bahan bakar yang dapat mengobarkan kepercayaan pada diri sendiri. Mengingat-ingat sukses masa lalu dimaksudkan untuk menimba kekuatan tersembunyi dari sana untuk dapat yakin bahwa di masa depan pun sukses dapat diraih.

E.  Beberapa hambatan tumbuhnya Motivasi.

  1. Kurang percaya diri: rasa percaya diri hilang karena pengaruh perkataan orang lain, yang cenderung memberikan penilaian-penilaian negatif terhadap apa yang kita lakukan. Rasa kurang percaya diri yang disebabkan oleh pengkondisian yang kita alami semasa kanak-kanak. orangtua serba melarang sehingga melalui suatu proses internalisasi, hal itu terpatri dalam jiwa anak, yang membuatnya kelak takut melakukan sesuatu. Rasa rendah diri karena pengalaman masa lalu, ornag pernah bahkan sudah beberapa kali mengalami kegagalan. Ini akan terus menghantui pikirannya ketika akan memulai sesuatu yang lain.
  2. Kecemasan berlebihan: Kata worry berasal dari kata Anglo Saxon “Weirgan” yang artinya mencekik, membekap jalan pernafasan sampai tidak ada yang mampu bertahan hidup. Kecemasan adalah perasaan yang menghinggapi orang manakala ia terbayang akan apa yang bakal menimpa dirinya bila gagal; rasa takut kehilangan pekerjaan jika mereka lakukan kesalahan, dan sebagainya. Dengan perasaan-perasaan seperti ini, maka orang kebanyakan memilih untuk tetap aman dan selamat tanpa tindakan, yang juga berarti tidak pernah berani tanpa tindakan, yang juga berarti tidak pernah berani mengambil keputusan atau tindakan yang perlu dilakukan.
  3. Opini negati: Opini negatif dapat disampaikan kepada diri kita dari berbagai sumber. Kalau gagasan-gagasan ini yang sampai kepada kita tidak disertai dengan sikap kritis, maka opini-opini ini akan membentuk opini kita sendiri yang juga negatif. Opini negatif membuat kita menjadi tidak antusias dan termotivasi tentang suatu itu.  Informasi dapat berfungsi sebagai pembentuk opini dalam diri kita, tidak terkecuali opini-opini negatif yang datang dari berbagai sumber. Kita harus beri kesempatan dan kebebasan kepada diri kita untuk mendengarkan bisikan nurani kita dalam menentukan tentang hal-hal penting tentang diri kita sendiri.
  4. Merasa bukan bagian dari kelompok atau sasarna yang lebih besar: ada perbedaan besar antara orang yang merasa diri sebagai bagian dari satu tim atau sasaran yang lebih besar dengan mereka yang merasa diri hanya sebagai bagian terpisah dari padanya.

F.   Disiplin mendukung motivasi

Motivasi sekali tercapai, tidak pernah berlangsung selamanya. Jadi motivasi bukan sesuatu yang sekali jadi, lalu selesai.  Ada orang yang begitu termotivasi dari awal tapi tidak lama kemudian menjadi kehilangan semangat. Untuk itu perlu disiplin diri yang tinggi.

Disiplin diri mencakup; Sikap konsisten berjuang mencapai target yang sudah ditetapkan, mendahulukan yang utama dan mendesak tanpa mengabaikan kebutuhan-kebutuhan  lain yang juga penting; dan tidak menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan. Artinya dalam memenuhi kebutuhan dan harapan-harapan kita, tetap dituntut menghormati aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku.

Perlu dicamkan musuh utama kedisplinan adalah sikap terlalu toleran terhadap diri sendiri, sikap terlalu memanjakan diri sendiri. Seorang bisa saja sangat keras atau tegas terhadap orang lain, namun sebaliknya sangat lunak dan penuh pengertian terhadpa diri sendiri.

Tugas

  1. Apa yang merupakan cita-cita Anda?
  2. Target-target apa yang anda tetapkan (jangka Pendek dan Jangka Panjang) sebagai langkah konkrit mencapai cita-cita anda?
  3. Buat semacam rencana/program sebagai pegangan (buka secara kaku) dan Anda tetap komit menjalaninya, demi pencapaian target-target yang sudah Anda buat, bahkan cita-cita Anda sendiri.

 

Intergritas Diri

Garis-garis Utama Pertumbuhan

  1. Garis emosi dan naluri: berkaitan dengan intituitif menghasilkan persepsi tentang objek baik dan buruk, positif atau negatif. Persepsi baik buruk ini didasarkan atas pengalaman dan pengetahuan yang sudah dibatinkan. Persepsi baik mendorongnya untuk menerima dan membiarkan objek itu mempengaruhi dirinya, sedangkan persepsi buruk mendorongnya untuk menghindari objek tersebut. Apabila persepsi sudah membangkitkan impulsi maka orang merasakan sesuatu, misalnya jengkel, benci, marah, sedih, khawatir, gelisah, senang, atkut, gembira dsb. Impulsi menumbuhkan perasaan ini bila diungkapkan keluar, maka menjadi emosi (kata emosi berasla dari tindakan mengungkapkan keluar energi impulsi.
  2. Garis kognitif: Pribadi manusia dipanggil untuk mengarahkan diri dalam dunia berkat akal budi atau penalaran yang menjamin tercapai objektivitas dan realisme dalam mencari kebenaran.
  3. Garis sosial atau relasional:  afeksi adalah seluruh sistem hidup rasa yang mempengaruhi dinamika hidup seseorang. Bertumbuh atau tidaknya sistem hidup rasa ini akan mempengaruhi reaksi-reaksi seseorang dalam hidup sosial. Kalau seseorang tidak mampu olah rasa ia akan mudah dikendalikan oleh gejolak rasa yang belumtentu sesuai dengan nilai-nilai yang ingin dicapai, kemudian muncullah kebutuhan psikologis tertentu yang dapat menjadi kelekatan yang tidak teratur. Persoalan dari kedewasaan dan kematangan afektif ini adalah mampukan seseorang mengatur rasa dalam disposisi hidupnya ? Jadi hidup rasa pun perlu diarahkan.

Dimensi-dimensi dasar diri manusia

  1. Dimensi fisik/material: dapat dilihat, diraba dan dipegang. Dimensi fisik berkaitan dengan hal yang bersifat material sebagai kebutuhan utama: makan, sandang, perumahan. Kesehatan dan kebugaran fisik serta segala bentuk maintenance lainnya, menjadi perhatian utama.
  2. Dimensi spiritual:  adalah aspek kejiwaan yang meliputi pemikiran, inteligensi, hidup kerohanian, bahkan juga berkaitan dengan emosi dan hal-hal batiniah lainnya. kebutuhan-kebutuhannya berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan memperkaya kerohanian, pengembangan berbagai daya atau potensi kejiwaan, pemberi bentuk tertentu atau warna yang khas pada diri pribadi setiap individu. Di samping itu dimensi ini memanfaatkan sumber, mengangkat semangat dan mengikat kebenaran tanpa batas waktu mengenai semua aspek kemanusiaan, walaupun setiap individu menghayati dengan cara yang berbeda-beda.
  3. Dimensi sosial : meliputi kebutuhan akan penerimaan, dicintai dan mencintai, pengakuan dan persahabatan serta segala bentuk hubungan sosial lainnya. Di dalam pertemuan dan kebersamaan dengan orang lain berkembanglah berbagai afeksi dan emosi, yang akan berpengaruh pada perkembangan  seseorang manusia secara keseluruhan.

Intergritas Diri

  1.  Menurut Herb Sheperd intergritas diri adalah kesatuan yang mencakup empat nilai, yaitu perspektif (spriritual), otonomi (mental), keterkaitan sosial dan tonus (fisik).
  2. Menurut George Sheehan menjabarkan intergritas diri adalah kesatuan empat peran, yaitu menjadi binatang yang baik (fisik), ahli pertukangan yan baik (mental), teman yang baik (sosial) dan ornag suci (spiritual).
  3. Jadi intergritas diri adalah keempat dimensi dasar dirilah manusia mendapat perhatian, penggemblengan, pembinaan, pengembangan yang seimbang sehingga keempat dimensi it mencapai kematangan berimbang dalam diri pribadi.

Manfaat integritas diri

  1. Fisik sehat dan bugar: Kondisi fisik yang sehat dan bugar dapat dicapai dengan mengkonsumsi jenis makanan yang menyehatkan, istirahat yang cukup dan relaksasi yang cukup, berolahraga secara teratur, serta segala kegiatan lain yang banyak berkaitan dengan pengembangan aspek jasmaniah kita. Inteligensi tinggi dan kemampuan rohani lainnya, berkaitan jugta dengan kondisi fisik yang sehat.
  2. Hidup sosial semakin membaik: memiliki kemampuan hidup sosial yang semakin membaik, suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan bersama. Kita dapat semakin mengalami perkembangan berbagai daya afeksi, emosi dan penghayatan beraneka norma dan nilai yang senantiasa muncul dalam pertemuan dan kebersamaan dengan orang lain. Semua terjadi karena perhatian kita yang semakin baik terhadap pemenuhan kebutuhan-kebutuhan berupa pembinaan dan pemeliharaan hubungan sosial yang efektif. Dalam kebersamaan kita semakin menghayati kepekaan dan berbagai bentuk kepedulian terhadap sesama, keterbukaan dan kerjasama, yang semuanya memperkaya kehidupan sosial hidup bersama.
  3. Kekayaan rohani: Berkaitan dengan usaha keras yang kita lakukan untuk mengisi kebutuhan-kebutuhan spiritual dalam banyak bidang, seperti belajar menuntut ilmu pengetahuan, mengembangkan bakat-bakat potensial tertentu, mengembangkan penghayatan hidup religius. Semuanya dapat menghantarkan orang untuk semakin bijaksana, memiliki pemahaman orang untuk semakin bijaksana memiliki pemahaman dan visi ke depan yang realistik.
  4. Mental jadi kuat dan sehat: mampu beradaptasi dengan berbagai perubaha, tanpa perlu terpengaruh secara negatif oleh perubahan itu. orang yang sehat mentalnya akan mampu memenuhi kebutuhan psikologisnya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dia berada. Ketangguhan mental seperti ini diperoleh karena usaha keras yang telah ditempuh sebelumnya dengan tetap menjaga kesehatan mentalnya bahkan meningkatkannya dengan tetap berorientasi pada pelaksanaan hal-hal yang bermakna dalam hidupnya.

Cara mengintergrasikan diri

Pengalaman afektif berkaitan dengan persepsi yang membangkitkan rasa dan mendorong reaksi serta tindakan. kebiasaan bereaksi secara emosional menghasilkan sikap emosional yang akan memengaruhi seseorang.

Hal ini kemudian akan memberi warna pada pembawaan, watak, dan perangai seseorang dalam disposisi afektifnya.

Akhirnya keadaan fisik kita sendiri tidak lepas dari perhatian semestinya, meskipun pada kenyataannya kita banyak bergumul dengan kebutuhan-kebutuhan dan pembinaan hidup kerohanian kita  yang secara nyata menghadapi berbagai tantangan perkembangan dan perubahan zaman dengan segala tuntutannya.

Gambaran Pribadi yang terintergritas memiliki ciri-ciri:

  1. Kadar konflik dirinya rendah. Ia tidak berperang melawan dirinya sendiri (pribadinya menyatu). Dengan demikian berarti memiliki lebih banyak energi untuk tujuan-tujuan produktif.
  2. Memiliki kemampuan dalam menata batin  sampai mencapai tahap kebebasan bain dalam arti tidak mudah di ambing-ambing oleh gejolak emosi dan perasaan sendiri.
  3. Semakin memiliki cinbta yang personal/kedekatan hidup pada Tuhan.  Mampu menanggung risiko dan konsekuensi dari pilihan hidup religiusnya.
  4. Seorang yang tidak mudah bingung tentang mana yang benar atau salah, baik atau buruk, juga persepsinya tentang tingkah laku yang benar tidak mengalami banyak keraguan.
  5. Seseorang yang memiliki kemampuan melihat hidup secara jernih, melihat hidup apa adanya bukan menurut keinginannya. Seseorang tidak lagi bersikap emosional, karena bersikap lebih objektif terhadap hasil-hasil pengamatannya. kebanyakan orang hanya mau mendengarkan apa yang ingin mereka dengar dari orang lain sekalipun pendengaran mereka itu sama sekali tidak benar atau tidak jujur.
  6. Orang ini juga dapat membaktikan tugas, kewajiban atau panggilan tertentu yang ia pandang penting. Karena berminat pada pekerjaannya itu ia bekerja keras. Baginya bekerja memberikan kegembiraan dan kenikmatan. Rupanya  rasa tanggung jawab atas suatu tugas penting merupakan syarat utama bagi pertumbuhan, aktualisasi diri serta kebahagiaan.

 

 

Mengembangkan diri

Arti Mengembangkan diri

Suatu usaha sengaja dan terus menerus, tanpa henti yang dilakukan dengan berbagai cara dan bentuk, untuk membuat daya potensi diri (jasmani dan rohani) dapat terwujud secara baik dan optimal, yang menghantar seorang pada taraf kedewasaan sesungguhnya. Usaha besar ini merupakan konsekuensi dari kedudukannya sebagai manusia yang diberi akal budi.

Tujuan yang ingin dicapai

Realisasi optimal ke arah yang baik› dari daya potensi yang dimiliki diri sendiri, (jasmani rohani) yang menghantar seseorang pada tingkat matang dewasa, yang membangun relasi yang baik dengan alam, sesama tuhan.

Usaha ini melibatkan diri manusia sepenuhnya dan menggunakan daya dukung yang tersedia baginya.

Cara mengembangkan diri

  1. Berusaha mengenal diri  sendiri, lalu menerima sebagaimana adanya.
  2. Dalam mengenal diri kita juga mengenal potensi yang dimiliki.
  3. Bangga dan optimis tentang diri kita dan membuka pintu bagi usaha mengembangkan diri.

Memiliki kemauan kuat untuk mengembangkan diri

  1. Mengembangkan diri merupakan usaha yang disengajar yang tanpa henti.
  2. Kemauan keras dan motivasi yang tinggi, kegigihan seseorang mengatasi tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan diri.

Memanfaatkan kemungkinan yang terbuka

Sering banyak waktu, peluang dan kesempatan berlalu begitu saja tanpa sempat kita memanfaatkannya kesempatan emas  ini sering disia-siakan begitu saja.

Belajar dari kesalahan

  1. Pengembangan diri sebaiknya disertai korektif dengan perbaikan terus menerus yang kadangkala disertai dengan tuntutan berat, seperti hukuman, tuntutan untuk melakukan sesuatu atau justru tidak melakukan sesuatu (pengendalian diri).
  2. Pengalaman-pengalaman masa lalu terutama kegagalan, merupakan masukan berharga untuk kemajuan berikutnya.
  3. Koreksi ini dapat kita lakukan sendiri dan juga dengan bantuan orang lain dan kesediaan kita untuk menerima kritik dan meresponnya secara positif.
Hal-hal penting yang perlu dikembangkan sebagai bentuk konkrit pengembangan diri
  1. Mental yang sehat
  2. Integritas diri
  3. Mandiri, kreatif dan inovatif
  4. Motivasi diri›
›

›

 

 

›

 

›

 

›

 

 

›

 

 

›

Perencanaan Kampanye

Alasan Perencanaan Kampanye dilakukan (Gregory, 2000; Simmons, 1990), Yaitu

  1. Memfokuskan usaha
  2. Mengembangkan sudut pandang berjangka waktu panjang
  3. Meminimalisasi kegagalan
  4. Mengurangi konflik karena sudah alur serta prioritas pekerjaan untuk tiap-tiap anggota tim.
  5. Memperlancar kerjasama dengan pihak lain.

Aspek-aspek Perencanaan Kampanye

  1. Analisis masalah
  2. Penyusunan tujuan
  3. Identifikasi dan segmentasi sasaran
  4. Menentukan pesan
  5. Strategi dan Taktik
  6. Alokasi waktu dan sumber daya
  7. Evaluasi waktu dan sumber daya
  8. Evaluasi dan tujuan
  9. Menyajikan rencana kampanye

 

Analisis masalah
Analisis  PEST (Political, Economic, Social and Technology)
         Secara khusus mempertimbangkan aspek penting yang terkait langsung proses pelaksanaan kampanye dan analisis SWOT yang lebih memfokuskan diri pada kalkulasi peluang pencapaian area politik mencakup berbagai peraturan pemerintah yang berhubungan dengan program dan pesan kampanye, serta keadaan kondisi politik atau pemerintahan.
Area Ekonomi meliputi kondisi nilai tukar mata uang, inflasi,keadaan ekonomi dunia serta harga berbagai sumber daya.
Area sosial  meliputi gaya hidup, perilaku sosial dan perkembangan populasi.
Area teknologi meliputi berbagai perubahan teknologi yang berkaitan dengan kampanye.
Melakukan analisis melalui penelitian 
Kuantitatif digunakan data-data yang bisa dituangkan ke dalam bentuk angka-angka dan statistik.
Kualitatif digunakan untuk data-data yang tidak bisa dituangkan ke dalam bentik angka-angka seperti opini, reaksi dan sikap.
Data-data yang diperlukan dapat diperoleh dengan menggunakan berbagai teknik, diantaranya: angket, focus group discussion atau diskusi kelompok.
Memeroleh informasi dari media karena hampir semua media mempunyai data mengenai khalayaknya.
Penyusunan Tujuan (Gregory: 2000)
  1. Susunlah tujuan kampanye
  2. Susun tujuan secara seksama dan spesifik
  3. Susun tujuan yang memungkinkan untuk dicapai
  4. Kuantifikasi semaksimal munkin
  5. Pertimbangkan anggaran
  6. Susun tujuan berdasar skala prioritas

Identifikasi dan segmentasi sasaran menurut James Grunic (gregory: 2000) membagi publik:

  1. Latent Public, yaitu kelompok yang menghadapi permasalah yang berkaitan dengan isu kampanye, namun tidak menyadarinya.
  2. Aware Public, yaitu kelompok yang menyadari bahwa permasalahan tersebut ada.
  3. Active Public, yaitu kelompok yang mau bertindak sehubungan dengan permasalahan tersebut.

Menentukan Pesan

  1. Mengambil persepsi yang berkembang di masyarakat berkenaan dengan isu atau produk yang akan dikampanyekan.
  2. Mencari celah dimana kita bisa masuk dan mengubah persepsi
  3. Melakukan identifikasi elemen-elemen persuasi. Kita bisa menggunakan jalur utama› maupun jalur alternatif.
  4. Meyakinkan bahwa pesan sudah layak untuk disampaikan dalam› program kampanye, uji coba dapat dilakukan dengan menggunakan pemilihan sampel dari populasi yang kita tuju.›

Strategi dan Taktik

  1. Gunakan strategi sebagai pembimbing lahirnya ide-ide cerdas untuk taktik. Taktik yang dituntun oleh strategi akan membuat kegiatan menjadi lebih sistematis dan ringan, serta tidak melenceng dari tujuan kampanye.
  2. Jauhi semua taktik yang bersifat non strategis. Takti yang banyak namun tidak terfokus kepada strategi akan memecahkan konsentrasi tim kampanye.
  3. Selalu hubungkan taktik pada strategi, dan strategi pada tujuan. Tujuan memberikan arah  secara keseluruhan tentang hasil akhir yang ingin dicapai melalui kampanye.
  4. Strategi merupakan kekuatan yang mendorong bagaimana menuju hasil akhir tersebut, sementara itu taktik memetakan  kegiatan dengan langkah-langkah tertentu dalam rentang waktu yang tersedia.
  5. Ujilah taktik bila memungkinkan. Pengujian dan pengubahan taktik merupakan hal yang wajib dilakukan sebelum tim kampanye memutuskan untuk mengubah strategi kampanye.
  6. Salah satu cara sederhana  untuk menguji taktik adalah dengan menyebarkan angket pada sasaran untuk dimintai pendapatnya sehubungan dengan taktik yang akan digunakan.

Alokasi waktu dan sumber daya

  1. Rentang waktu yang ditetapkan dari pihak luar, misalnya rentang waktu pemilu yang ditetapkan pemerintah.
  2. Rentang waktu yang ditetapkan sendiri, misalnya rentang waktu kampanye pengenalan produk oleh lembaga maupun perencanaan kampanye.

Evaluasi dan Tinjauan

  1. Evaluasi berperan penting untuk mengetahui sejauhmana pencapaian yang dihasilkan kampanye.
  2. Untuk kampanye yang berkelanjutan evaluasi merupakan bagian yang terus berjalan seiring dengan kegiatan kampanye tersebut.
  3. Evaluasi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terstruktur.

Menyajikan rencana kampanye

  1. analisis masalah
  2. Tujuan Program kampanye
  3. Pesan kampanye
  4. Sasaran kampanye
  5. Strategi dan taktik
  6. Alokasi waktu dan sumber daya
  7. Metode Evaluasi

 

 

 

 

 

› 

 

›

 

› 

 

 

› 

 

 


 
›  

›

›

›

› 

Khalayak Sasaran Kampanye PR

SIAPAKAH KHALAYAK SASARAN KAMPANYE?

McQuail & Windhal (1993) mendefinisikan khalayak sasaran sebagai sejumlah besar orang yang pengetahuan, sikap dan perilakunya akan diubah melalui kegiatan kampanye.

Keyakinan, sikap dan nilai yang merupakan konsep kepribadian dan kebutuhan khalayak yang menurut Ferguson (1999) akan memberi pemngaruh signifikan terhadap cara orang mempersepsi dan merespon berbagai stimulus yang hadir.

a. Keyakinan

“A belief is an assertion we perceive to be true.” (Jonston, 1994). jadi, keyakinan adalah pernyataan yang kita persepsi sebagai suatu yang benar. Keyakinan umumnya merujuk pada dua objek kognitif yang saling berkaitan dan satu  menerangkan lainnya. 3 Ciri pokok keyakinan:

  1. Keyakinan dapat beragam kekuatannya karena konstruk ini bersifat probabilistik
  2. Keyakinan yang ada berkaitan dengan sistem keyakinan.
  3. Keyakinan memiliki berbagai lapisan yang masing-masing mengindentifikasikan jenis keyakinan yang berbeda.

b. Sikap

Sikap adalah salah satu topik studi perilaku yang paling banyak dikaji secara mendalam. Sikap diindentidikasikan dalam 4 aspek:

  1. Sikap memiliki dimensi afektif
  2. Sikap adalah keyakinan-keyakinan yang terorganisir. Keyakinan adalah kecenderungan tunggal terhadap objek tertentu.
  3. Sikap bersifat relatiof menetap dan bukan merupakan pikiran atau evaluasi yang muncul tentang objek.
  4. Sikap merefleksikan komoponen behavior dari keyakinan-keyakinan

c. Nilai

Perangkat psikologis berikutnya adalah nilai yang diidentifikasikan Rokeach (applbaum & anatol, 1976) sebagai keyakinan yang berlaku terus menerus (menetap) bahwa cara berperilaku atau kondisi akhir tertentu secara pribadi atau sosial lebih diharapkan ketimbang cara berperilaku atau kondisi akhir lainnya yang bertentangan.

 

 

d. Kebutuhan
  • Persepsi kita tentang kesenjangan yang ada antara apa yang kita punyai dengan apa yang kita sepatutnya tidak punya, antara “dimana kita” dengan “dimana kita hendaknya berada” (Morreale & Bovee (1988)
  • Kebutuhan menciptakan berbagai motif, yakni kekuatan yang membimbing perilaku kita ke arah pemenuhan kebutuhan tersebut. Dengan kata lain, manusia dimotivasi untuk memuaskan kebutuhan yang belum terpenuhi.
e. Kepribadian
  • Pola perilaku individu yang konsisten dan relatif permane (assael, 1998). Kepribadian bersifat unik dan dapat berbeda antara satu individu tampak bila mengamati seseorang terhadap berbagai stimulus yang menerpa dirinya.
  • Orang dengan harga diri yang tinggi lebih sulit diubah dengan orang yang harga diri rendah.

Faktor yang memengaruhi khalayak

  • Pesan yang akan menimbulkan efek yang berbeda bila disampaikan pada seseorang atau sekelompok kecil orang, namun bila disampaikan pada sejumlah besar orang yang tidak terorganisasi atau kerumuman, maka efeknya sama.
  • Akan muncul efek perambatan, reaksi yang muncul sifatnya saling menguatkan dan merambat secara cepat. Memunculkan reaksi yang kuat dan seragam.
  • Jika terjadi sesuatu yang mengancam tercapainya keinginan bersama, maka kemungkinan besar akan terjadi kekacauan, huru hara atau kerusuhan.

3 Hal penyebab hilang batasan  yang jelas dalam kerumunan

  1. Pendistribusian tanggung jawab terjadi di antara banyak orang, tidak pada satu orang.
  2. Adanya sesuatu yang mengalihkan perhatian semua orang, sehingga mereka tidak dapat berpikir jernih dan melakukan pertimbangan tertentu terlebih dahulu.
  3. Hasilnya adalah perubahan pada perilaku orang-orang tersebut menjadi perilaku kerumuman sebagai perilaku normatif mereka.

Ragam Kepribadian

  • Orang dengan pikiran terbuka: Menurut Rokeach (Fergusan, 1999; Bettinghause, 1973) lebih terbuka terhadap informasi atau gagasan baru. Senang membandingkan pendapat dan keyakinan mereka dengan pihak lain yang berseberangan dan bersedia membicarakan perbedaan sampai pada titik temu.
  • Kepribadian otoriter: Bersikap kaku, konvensiona, konservatif, berorientasi kekuasaan, memiliki toleransi yang rendah terhadap ambiguitas dan anti demokrasi (ferguson, 1999).

Bagaimana Khalayak mengolah pesan?

Teori Intergrasi Informasi (information-Intergration Theory)

Cara mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi tentang orang, peristiwa, gagasan atau objek lain untuk membentuk sikap terhadap objek atau konsep tersebut.

Semua informasi potensi untuk memengaruhi sikap seseorang yang ditentukan

  1. Variable Valence (derajat informasi dipandang sebagai  kabar baik atau kabar buruk.
  2. Variable weight (bobot pesan yang dikaitkan dengan kredibilitas sumber menyampaikan informasi.

Teori Pertimbangan sosial (Sosial Judgement Theory)

  • Dikembangkan oleh Muzafer sherif, Psikolog dari Oklahoma University AS (Barker, 1987) menyatakan perubahan sikap seseornag terhadap objek sosial atau isu tertentu merupakan hasil proses pertimbangan yang terjadi dalam diri orang tersebut terhadap pokok persoalan yang dihadapi.
  • Proses pertimbangan isu atau objek sosial berpatokan pada tindakan memosisikan dan menyotir pesan dilakukan alam bawah sadar kita terjadi sesaat  setelah proses persepsi

Teori Elaboration  Likehood

Dikembangkan oleh Richard E. Petty dan John T. Cacioppo, pakar komunikasi persuasi dari Ohio State University As tahun 1980 Keputusan dibuat bergantung pada jalur yang ditempuh dalam memproses sebuah pesan, yaitu:

  •           Central route: seorang sungguh-sungguh mengolah pesan-pesan persuasif yang diterimanya semata-mata berfokus pada isi pesan.
  •          Peripheral route: orang tersebut tidak melakukan evaluasi yang mendalam terhadap isi pesan yang diterimanya melainkan lebih memerhatikan daya tarik penyampaian pesan, kemasan produk atau aspek peripheral lainnya.›

Perlakuan terhadap mereka menurut James E. Grunig (Baran & Davis, 2000)

  • Khalayak  yang sadar dan aktif biasanya lebih sering mencari dan mengolah informasi untuk memantapkan (Bukan membentuk) pandangan mereka sendiri tentang isu atau masalah yang dihadapi. Konsekuensinya akan sulit mengubah pandangan mereka.
  • Publik Laten, yang tidak aktif mencari informasi, dapat dicapai dengan media yang lebih bersifat massal seperti acara prime time di televisi dan surat kabar dan majalah yang ditujukan untuk umum.

Identifikasi dan segmentasi khalayak

  1. Non Publik: orang-orang yang tidak memandang atau menyadai adanya suatu masalah.
  2. Publik laten: yang menyadari adanya masalah namun tidak melibatkan diri di dalamnya.
  3. Publik sadar: mereka yang menyadari adanya masalah terlibat dalam memikirkan masalah, namun belum mengambil tindakan apa-apa.
  4. Publik aktif: orang yang secara aktif mencari pemecahan terhadap masalah dan mereka terlibat di dalamnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

›

 

 

›

Menghargai Diri Sendiri

MENERIMA DIRI SENDIRI  

Salah satu hal yang membantu kita menerima diri adalah menghargai diri sendiri. Dalam  hidup ini kita semua pernah merasa tekanan-tekanan batin akibat kesalahan atau kekurangan seperti: Kesalahan dalam berbicara, dalam bertingkah laku dan sebagainya yang membuat kecewa dan menjadi kita kurang menghargai diri sendiri.

MERASA TERSIKSA…Karena kekurangan, rasa penyesalan itu akan tertumpuk untuk kemudian menimbulkan bentuk permusuhan terhadap dunia luar. Sebaliknya belajar menghargai dan bersikap lebih ramah terhadap diri sendiri bisa menambah cinta kita kepada orang lain. Bila tidak sanggup memecahkan persoalan-persoalan diri sendiri kita memulai membenci orang-orang lain. Hasilnya lingkaran setan yang akan menghancurkan diri sendiri, yaitu benci diri sendiri, benci orang lain, akhirnya dibenci juga orang lain.

MENGHARGAI DIRI SENDIRI

Suatu sikap menghormati dan menjaga diri sendiri, tidak membiarkannya terlantar dan menjadi beban orang lain, serta tidak membiarkannya, diperalat atau dimanipulasi oleh orang lain.

HARGA DIRI Adalah apa yang saya pikirkan dan rasakan tentang diri saya sendiri bukanlah apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang lain.

SIKAP MENGHARGAI DIRI SENDIRI

Menjadikan dirinya sebagai subjek pelaku,  aktif dalam setiap tindakan , tidak menjadikan dirinya objek yang tertindas, yang hanya menerima nasib begitu saja, menjauhkan diri dari tindakam tercela, madat, narkoba, judi, maling, provokator dan sebagainya, sikap-sikap seperti konsisten, tanggung jawab dan menghargai waktu, termasuk wujud dari sikap menghargai diri sendiri.

Biasakanlah berbicara: Kebahagiaan-Kemajuan- Kemakmuran.

MENGEMBANGKAN HARGA DIRI …›

Mengembangkan keyakinan bahwa seseorang mampu hidup dan patut berbahagia dalam menghadapi kehidupan dengan penuh keyakinan, kebajikan dan optimisme yang akan membantu kita mencapai tujuan.

Dengan mengembangkan harga diri berarti memperluas kapasitas untuk mencapai kebahagiaan. Semakin kokoh harga diri seseorang semakin kreatif dalam bekerja, semakin hormat dan bijak dalam memperlakukan orang lain karena tidak memandang orang lain sebagai ancaman.

Harga diri yang sejati tidak diungkapkan melalui pemujaan diri saja dengan mengorbankan orang›lain atau menyengsarakan orang lain untuk kebahagiaan sendiri.

HAMBATAN UTAMA  MENGHARGAI DIRI SENDIRI

Rasa rendah diri menganggap diri kecil dan tak berarti. Orang yang rendah diri senantiasa dikejar-kejar oleh kekurangan-kekurangan yang menghantui baik kekurangan itu sungguh-sungguh ada atau hanya dibayangkan diri sendiri.

Seluruh hidupnya penuh diliputi oleh kerja membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain dan hampir selalu merasa kalah.

Ciri-Ciri orang yang rendah diri antara lain:

  1. Menuntut cinta dan kekaguman terlalu banyak dari orang lain.
  2. Gila kesempatan dan berharap terlalu banyak pada dirinya.
  3. Terlalu takut mengalami kekalahan dan kegagalan.
  4. Terlalu dihantui sukses orang lain.
  5. Menghindari tanggung jawab dengan menyatakan telah gagal.
  6. Terlalu peka perasaan.

Cara-cara Negatif Mengatasi rendah diri:

Membangun mekanisme pertahanan. Si penderita merasa rendah diri mau menutupi dirinya dengan selubung yang berkilau-kilau. Ia bicara besar, belagak, mengada-ada, membual tentang prestasi-prestasinya dalam banyak bidang, menunjukkan sikap berlebih-lebihan pada saat-saat yang tidak tepat. Ia selalu merasa was-was dan berjaga-jaga kalau orang lain tahu dia yang sebenarnya.

Mengundurkan diri dari Lingkungan

Bersembunyi sambil berkhayal tentang kehebatannya dirinya yang tak pernah terjadi. ia melamun tapi tidak berbuat sesuatu apapun.

Ia hidup dalam lamunan, memperoleh kepuasan semu, namun jauh dari realitas dirinya sendiri yang sebenarnya. Ia tidak mau bergaul dengan orang lain dan mau orang lain menganggapnya unggul.

CARA POSITIP MENGATASI RASA RENDAH DIRI

  1. Langsung bertindak mengatasi kekurangan.
  2. Substitutsi (cara Mengganti)
  3. Mau menerima kekurangan-kekurangan dan batas kemampuan kita
  4. Tuhan menciptakan tiap-tiap manusia dengan selau keistimewaan tertentu.
  5. Mencatat dan mengingat-ingat sukses yang pernah dicapai.

UPAYA AGAR DIHARGAI

  1. Menghormati diri sendiri.
  2. Memperbaiki penampilan. Diri kita adalah apa yang pikirkan. Harga diri tidak saja ditentukan oleh keberhasilan duniawi saja, tetapi ditunjang oleh kesadaran, penerimaan terhadap diri sendiri, penuh tanggung jawab.
  3. Hidup penuh kebaikan dengan menghargai berbagai kenyataan, pengetahuan dan kebenaran, suatu  sarana membangkitkan tingkat kesadaran yang mengatasi  tindakan-tindakan.
Harga diri tidak saja ditentukan oleh keberhasilan duniawi saja, tapi juga ditunjang oleh kesadaran penerimaan terhadap diri sendiri, penuh tanggung jawab.
 

 

 

 

 

 

 

 

› 

 

PESAN KAMPANYE

Kampanye selalu bermula dari gagasan

Sebuah gagasan dapat muncul karena berbagai alasan dan akan dikonstruksi dalam bentuk pesan-pesan yang dapat disampaikan kepada khalayak. Pesan ini akan dipersepsi, ditanggapi, diterima atau ditolak oleh khalayak.

Jadi inti kampanye adalah pesan yang disampaikan dalam berbagai bentuk  ,mulai dari poster, diskusi, iklan hingga selebaran. Apapun bentuknya pesan selalu menggunakan simbol verbal yang diharapkan dapat memancing khalayak.

PENGARUH PESAN TERHADAP KEBERHASILAN KAMPANYE 

Kesuksesan setiap kampanye selalu hadir para perancang pesan yang sensitif dan kreatif (Roger and  Synder, 2002). Para perancang ini memiliki kepekaaan dalam mengidentifikasi khalayaknya dan memiliki  kreativitas dan mendesain pesan sesuai  ciri-ciri umum khalayk yang menjadi sasaran utama.

2 ASPEK PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN

A. ISI PESAN

Mulai dari materi pendukung, visualisasi, pendekatan emosionalo, pendekatan rasa takut, kreativitas dan humor serta pendekatan kelompok rujukan. Menurut Koballa (1986) sikap yang terbentuk berdasarkan contoh dan peristiwa bersejarah masa lalu lebih menetap dalam diri seseorang dalam waktu yang lama, dibanding dengan sikap yang terbentuk berdasarkan  data-data.

Isi pesan harus menyertakan visualisasi mengenai dampak positif atas respon tertentu yang diharapkan muncul dari khalayak sasaran.

B. STRUKTUR PESAN

Merujuk pada bagaimana unsur-unsur pesan diorganisasikan. Secara umum ada 3 aspek yang terkait langsung dengan pengorganisasian pesan:

  1. Sisi Pesan (message sideness)
  2. Susunan penyajian (order of Presentation)
  3. Pernyataan kesimpulan (drawing conclusion)

Argumentasi 2 sisi akan lebih efektif ketika berhadapan dengan  khalayak:

  1. Berpendidikan tinggi atau cerdas.
  2. Menyadari dua sisi yang berseberangan dari suatu isu.
  3. Khalayak belum sepakat dengan posisi juru kampanye. Sebaliknya, pelaku kampanye menggunakan argumentasi satu sisi, ketika:
  • Khalayak sudah dalam posisi mendukung juru kampanye.
  • Khalayak mudah bingung atau sulit memahami isu yang ada.
  • Khalayak tidak ada menyadari adanya argumentasi.
›

HAL-HAL PENTING YANG DAPAT MENARIK  PERHATIAN KHALAYAK:

  1. Pesan memiliki kedekatan
  2. kesegeraan
  3. berhubungan dengan hal nyata
  4. berhubungan dengan hal penting
  5. yang diulang-ulang
  6. Familiar
  7. Sederhana
  8. Baru
  9. memiliki pertentangan
  10. Memiliki isi visual dan suatu yang  jelas
  11. Menceritakan kehidupan orang penting
  12. Menggugah perasaan
  13. Memiliki nilai humor tertentu.

 

PESAN YANG EFEKTIF

Pesan yang menginformasikan dengan segera kejadian penting yang sedang terjadi di sekitar khalayak sasaranyanya, sehingga mudah dikenali dan ditanggapi oleh khalayak.

 

Strategi Persuasi untuk Praktik Kampanye PR

A. PILIHLAH KOMUNIKATOR YANG TERPERCAYA

Kredibilitas adalah persepsi yang dimiliki khalayak tentang komunikaotr. Ini merupakan kerangkan perseptua khalayak tentang komunikator dan bukan karakteristik komunikator (Hovland dalam Larson, 1953).

Kredibilitas yang dimiliki komunikator harus disesuaikan dengan khalayak yang akan dituju.

B. KEMASLAH PESAN SESUAI KEYAKINAN KHALAYAK

Fishbein dan Ajzen (Perlof, 1993) mengatakan bahwa pesan akan dapat mempunyai pengaruh yang besar untuk mengubah perilaku khalayak jika dikemas sesuai dengan kepercayaan yang ada pada diri khalayak.

Ajak Khalayak untuk berpikir

Sebuah pesan dapat membawa perubaan perilaku jika dapat memunculkan pemikiran positif dalam diri khalayak. Menyajikan data-data statistik dan temuan-temuan penelitian yang relevan, menayangkan alasan khalayak melakukan sesuatu atau sekadar memberikan argumentasi yang masuk mendorong khalayak berpikir.

GUNAKAN STRATEGI  PELIBATAN

Tingkat pelibatan sangat tergantung pada jenis khalayak. Flora dan Maibach menyatakan bahwa pesan yang disampaikan harus diarahkan pada tinggi atau rendahnya keterlibatan.

Hasil penelitian mereka terhadap mahasiswa ternyata mahasiswa yang tingkat keterlibatannya rendah lebih dapat mengingat iklan yang bersifat emosional yang dapat menyentuh hati dan menimbulkan kesadaran  mereka akan bahaya aids. Pengukuran tingkat keterlibatan dilakukan dengan menggunakan skala likert.

GUNAKAN STRATEGI PEMBANGUNAN INKONSISTENSI

Berdasarkan teori Disonansi kognitif, munculkan sebuah pesan yang akan menimbulkan ketidakcocokan tersebut pada akhirnya akan membawa khalayak berkeinginan untuk melakukan tindakah yang akan membawanya berada pada kondisi yang aman dan seimbang. Kondisi inilah yang dapat digunakan dengan baik untuk membimbing khalayak agar melakukan perubahan perilaku sesuai dengan apa yang dianjurkan dalam kampanye.

Contoh dari strategi ini dapat kita temui pada kampanye anti rokok.

PROSES PERSUASI KAMPANYE (BHREHMS)

  1. Memberikan pemahaman bahwa ketika terjadi usaha dalam mempengaruhi khalayak  untuk berubah ternyata secara alamiah terdapat potensi khalayak untuk melakukan penolakan.
  2. Untuk mengurangi resistensi, maka tunjukanlah bahwa pesan sesuai dengan norma dan nilai-nilai khalayak. Ini akan membawa khalayak untuk memandangnya sebagai sesuatu yang konstruktif dan pantas untuk dilakukan.
  3.  Komunikator yang memiliki tingkat kesamaan (similarity) yang tinggi dengan khalayak akan mengurangi potensi resistensi. Terlebih bila komunikator tersebut adalah pemuka pendapat di lingkungan masyarakat yang bersangkutan.
  4. Jangan lakukan paksaan untuk mempengaruhi orang lain. Paksaan  mungkin apat saja cepat membuat orang berubah, namun tidak akan bertahan lama. Selain itu,  bila muncul perlawanan, maka semakin besar paksaan akan semakin besar pula perlawanan yang ditunjukkan.

RESISTENSI TERHADAP PERSUASI

Semua orang memiliki potensi untuk melakukan perlawanan terhadap pesan  yang berusaha untuk mempengaruhi.

Ack Bhrem,s (perloff, 1993) seorang ahli yang menelaah secara langsung kecenderungan manusia untuk resistan terhadap perubahan. Penelitiannya diungkapkan ke dalam teori reaksi psikologis atau theory or psychological reactance, yang  memberikan penjelasan berguna mengenai kecenderungan universal manusia untuk melawan upaya  perubahan. Reaksi psikologis terjadi ketika seseorang termotivasi untuk memberontak saat kebebasanya untuk memilih tindakan-tindakan tertentu diancam dengan persuasi.

Akibatnya, buka kerelaan yang muncul melainkan kebulatan tekad yang akan membawa kekebalan terhadap persuasi. Resistensi terhadap suatu pesan dapat ditunjukkan oleh seseorang dengan berbagai cara.

Resistensi destrktif yang dilakukan dengan perilaku ketidaksetujuan yang negatif, bahkan cenderung memberontak terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak boleh ditolak.

Resistensi konstruktif adalah sebuah penolakan terhadap suatu pengaruh yang berlawanan dengan norma dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, misal: penolakan terhadap pemikiran untuk menyuntik mati pasien yang tidak sadar juga dari koma.

Praktiknya, kedua resistensi ini sulit dibedakan karena nilai dan norma yang berlaku pada setiap masyarakat berbeda. Apa yang dilihat sebagai sesuatu yang destruktid, bagi pihak lain ternyata suatu hal yang konstruktif.

› 

 

 

›